Mengamati Arsitektur Brutalisme dan Daylighting Gereja Saint Pierre Firminy
Gereja Saint-Pierre di Firminy, Prancis, merupakan bangunan keagamaan ketiga Le Corbusier yang penting. Setelah karyanya yang pertama Kapel Notre-Dame-du-Haut di Ronchamp, dan karya keduanya Gereja Biara La Tourette.
Pada awalnya Le Corbusier membayangkan Église Saint-Pierre di Firminy sebagai sebuah bentuk ovoid besar yang ditransformasikan menjadi persegi—sebuah lengkung puitis yang diangkat ke dalam wujud batu. Namun ketika asistennya José Oubrerie, karena meninggalnya Le Corbusier akhirnya melanjutkan konsep desain dan merealisasikan proyek ini beberapa dekade kemudian, visi tersebut mengalami perubahan.
Bentuk oval yang kontinu pada saat itu secara teknologi bangunan terlalu kompleks untuk diwujudkan, memaksa Oubrerie menafsirkan ulang visi Le Corbusier. Bidang-bidang datar yang disatukan oleh lengkungan, bagian dasar yang diperlebar, dan sudut atap yang diperhalus. Hasil akhirnya bukan lagi sebuah ovoid, melainkan bentuk menyerupai piramida, walau terlihat setia pada gagasan awal akan tetapi secara mendasar berbeda.
Gereja terbangun menjulang sebagai sebuah kerucut terpancung, dengan empat dinding trapesium yang melambung setinggi 33 meter dari denah dasar berbentuk persegi. Tepi-tepi tajam di tingkat tanah perlahan melebur menjadi garis-garis membulat seiring bangunan meninggi, menghadirkan permainan antara kesan berat dan keanggunan.
Selubung bangunan menuntut upaya luar biasa, dengan lebih dari seratus bekisting khusus yang dibuat untuk membentuk lengkungan beton. Jalur aliran air pun dijalin langsung ke dalam desain: talang-talangan dipotong melintasi fasad dalam kisi-kisi geometris.
Arsitektur Brutalisme ini menjadikan cahaya alam sebagai elemen sentral. “Tabung Cahaya” berbentuk lingkaran dan persegi pada atap, bersama dengan menara lonceng, dicetak pracetak di permukaan tanah lalu diangkat ke posisinya sebelum ditanamkan ke dalam pelat setebal 36 cm yang berfungsi sebagai batu kunci (keystone) struktural.
Untuk mengkonversi cahaya sore hari yang keras menjadi cahaya surgawi, pada fasad barat sebuah meriam cahaya berbentuk persegi panjang horizontal dipadukan dengan fenestron berwarna serta jendela-jendela besar di tingkat dasar.
Pada fasad timur cahaya masuk melalui bukaan kaca kecil yang membentuk rasi bintang Orion. Pada pagi hari, sinar-sinar kecil menembus dinding timur membentuk pola Orion, sebuah rasi bintang yang dipilih oleh José Oubrerie untuk menyempurnakan visi Le Corbusier.
Pada jam-jam tertentu di dalam ruangan ini terlihat gelombang cahaya halus yang menghiasi dinding, seolah melambangkan kehadiran Tuhan dalam bentuk cahaya yang kudus. Efek cahaya tersebut timbul bukan dari mukjizat melainkan dari keterampilan desain tabung-tabung kaca berlekuk yang dipilih selama proses konstruksi menyebarkan gelombang-gelombang cahaya halus yang mengisi keheningan.
Saat menatap ke atas, gereja ini menyingkapkan dirinya bukan melalui simbol-simbol, melainkan melalui cahaya. Dua tabung cahaya besar di atap sisi selatan menumpahkan cahaya siang dari atas, sementara perforasi-perforasi tersembunyi menyebarkan berkas cahaya yang melengkung dan menari di sepanjang dinding.
Sementara lubang cahaya berwarna merah, kuning dan hijau yang menyatu dengan manis di balik jalur drainase mengitari bangunan, mendistribusikan cahaya dengan lembut ke dalam ruang nave. Pita-pita cahaya berwarna dari bukaan tersembunyi menelusuri tepi-tepi ruang, memancarkan cahaya lembut bahkan pada malam hari.
Menjelang senja, sebuah meriam cahaya hijau-biru membasuh altar dengan cahaya yang kian memudar, sementara bangku-bangku—yang menggemakan bangku-bangku di Ronchamp—menambatkan karya ini dalam kesinambungan. Di sini, arsitektur menjadi bukan sekadar objek, melainkan permainan hidup antara bayangan, warna, dan waktu.
Setia pada gagasan promenade architecturale Le Corbusier, pendekatan menuju bangunan ini merupakan sebuah perjalanan. Sebuah ramp melingkari fasad selatan, menyingkapkan gereja dari sudut-sudut pandang yang terus berubah sebelum akhirnya mengantar ke pintu masuk barat.
Awalnya direncanakan sebagai sebuah katedral namun kemudian ditinggalkan oleh pihak keuskupan, gereja ini akhirnya diselesaikan sebagai proyek sipil dengan dukungan Kota Saint-Étienne. Kini, bangunan ini berdiri bukan hanya sebagai tempat ibadah sesekali, melainkan juga sebagai monumen bagi warisan Le Corbusier—sebuah mimpi yang sempat tak selesai, lalu dibentuk ulang menjadi sebuah landmark yang hidup.